5 Agama Resmi di Tiongkok — Kenapa Konghucu Malah Tidak Termasuk?
5 Agama Resmi di Tiongkok — Kenapa Konghucu (Konfusianisme) Tidak Termasuk?
Di Republik Rakyat Tiongkok, pemerintah hanya mengakui secara resmi lima agama. Namun Konfusianisme atau Konghucu — meski sangat berpengaruh dalam budaya Tiongkok — biasanya tidak tercantum sebagai salah satu agama resmi. Di bawah ini penjelasan sederhana: apa saja lima agama itu, bagaimana pemerintah mengaturnya, dan alasan mengapa Konghucu sering diperlakukan berbeda. 1
Apa saja 5 agama resmi yang diakui pemerintah Tiongkok?
Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok mengakui lima agama resmi, yaitu:
- Buddhisme
- Taoisme (Daoisme)
- Islam
- Katolik Roma (melalui organisasi negara)
- Protestan (Gereja-gereja Protestan)
Sumber: laporan kebijakan agama dan analisis lembaga riset. 2
Mengapa hanya lima? — singkat soal kebijakan pemerintah
Pemerintah Tiongkok mensyaratkan organisasi keagamaan mendaftar dan bergabung dengan badan negara yang sesuai (mis. Asosiasi Buddhis Tiongkok, Asosiasi Taois Tiongkok, Asosiasi Islam Tiongkok, Asosiasi Katolik Patriotik, dan Gerakan Tiga-Diri untuk Protestan). Kegiatan agama yang tidak terdaftar atau berada di luar struktur resmi seringkali diawasi atau dilarang. Kebijakan ini bertujuan bagi pemerintah untuk mengendalikan dan ‘sinicize’ praktik agama agar sejalan dengan kebijakan negara. 3
Lihat juga: bagaimana organisasi agama diawasi lewat badan-badan yang terkait dengan United Front Work Department dan administrasi agama negara. 4
Lalu, kenapa Konghucu (Konfusianisme) tidak dimasukkan ke daftar?
Ada beberapa alasan utama — gabungan faktor sejarah, definisi agama, dan kebijakan pemerintahan:
- Konfusianisme sering dipahami sebagai tradisi etika/filosofi, bukan agama teistik. Banyak sarjana berpendapat Konfusianisme menekankan moral, tata krama, dan sistem sosial (kewajiban keluarga, ritual), bukan penyembahan kepada Tuhan tunggal atau sistem teologi yang jelas seperti pada agama Abrahamik. Karena itu pemerintah dan sebagian besar peraturan hukum memosisikannya lebih sebagai warisan budaya/etika daripada agama formal. 5
- Standar administrasi negara untuk 'agama' bersifat praktis dan politis. Pemerintah memilih kategori yang mudah dikelola lewat asosiasi negara. Pengakuan formal mengikuti model organisasi yang bisa diawasi dan diatur (mis. badan nasional untuk Buddhisme, Taoisme, Islam, Katolik, Protestan). Konfusianisme, yang sering tersalur lewat sekolah filsafat, akademi, kuil ritual budaya, atau institusi kebudayaan, tidak selalu cocok dimasukkan ke kerangka organisasi agama resmi. 6
- Sejarah modern Tiongkok dan politik ateisme negara. Setelah 1949, rezim Komunis mengadopsi ateisme resmi dan mengatur agama secara ketat. Dalam konteks itu, praktik budaya seperti ritual Konfusianisme banyak dipandang sebagai adat kebiasaan atau pendidikan moral, bukan praktik keagamaan yang perlu pengawasan resmi seperti gereja atau masjid. Baru belakangan ada kebangkitan budaya Konfusianisme, tapi pengakuan formal sebagai 'agama' tetap jarang. 7
Apakah berarti Konfusianisme dilarang?
Tidak selalu dilarang. Banyak unsur Konfusianisme (nilai-nilai etika, ritual keluarga, pemuliaan leluhur dalam konteks kebudayaan) tetap hidup di masyarakat Tiongkok. Bahkan pemerintah mendorong “revitalisasi budaya tradisional” dalam bentuk pendidikan moral dan proyek kebijakan budaya — tetapi itu berbeda dengan pengakuan Konfusianisme sebagai agama yang harus terdaftar di bawah asosiasi resmi. Ada perbedaan antara pengakuan budaya/ideologis dan pengakuan agama formal. 8
Apa contoh lain dari kelompok yang tidak diakui atau diawasi ketat?
Selain Konfusianisme (yang sering ditempatkan pada level budaya/filosofi), pemerintah juga membatasi gerakan keagamaan yang tidak terdaftar — misalnya beberapa gereja 'rumah' (underground churches), kelompok Falun Gong (yang dilarang), dan gerakan keagamaan lain yang berkembang di luar struktur resmi. Pemerintah menekankan pendaftaran dan pengawasan agar kegiatan sesuai kebijakan nasional. 9
Perkembangan terakhir — apakah mungkin pengakuan berubah?
Dalam beberapa tahun terakhir ada kebangkitan minat terhadap nilai-nilai tradisional, termasuk Konfusianisme — kampus, akademi, dan organisasi kebudayaan mempromosikan pengajaran Konfusius sebagai bagian identitas nasional. Namun perubahan dari status budaya/filosofi menjadi 'agama resmi' memerlukan keputusan hukum dan politik yang besar. Sampai sekarang, pengakuan negara tetap pada lima agama resmi. 10
- Pemerintah Tiongkok mengakui resmi: Buddha, Tao, Islam, Katolik, dan Protestan. 11
- Konfusianisme umumnya dipandang sebagai tradisi etika/filosofi, bukan agama teistik formal, sehingga tidak dimasukkan dalam kerangka agama resmi negara. 12
- Pendaftaran dan kontrol organisasi keagamaan membuat pengakuan formal bergantung pada kemampuan sebuah tradisi untuk masuk ke struktur yang dapat diawasi. 13
FAQ (Pertanyaan singkat)
1. Apakah orang China tidak boleh mempraktikkan Konfusianisme?
Tidak dilarang. Nilai dan ritual Konfusianisme tetap dipraktikkan sebagai kebudayaan, pendidikan moral, atau ritual keluarga. Hanya saja Konfusianisme jarang diperlakukan sebagai agama yang terdaftar di bawah badan agama negara. 14
2. Apakah ada usaha menjadikan Konfusianisme sebagai agama resmi?
Ada diskusi akademik dan gerakan kebangkitan budaya, tetapi pengakuan resmi sebagai agama akan memerlukan perubahan kebijakan yang besar; hingga kini belum terjadi. 15
3. Apakah pemerintah pun mengawasi agama-agama yang diakui?
Ya. Agama-agama yang terdaftar tetap diawasi oleh badan negara; organisasi agama harus mematuhi aturan pendaftaran, pengajaran, dan kegiatan sesuai kebijakan pemerintah. 16
Terima kasih sudah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat!
Sumber utama: Council on Foreign Relations; U.S. State Department; Pew Research Center; Oxford Research/encyclopedia. 17

0 Response to "5 Agama Resmi di Tiongkok — Kenapa Konghucu Malah Tidak Termasuk?"
Post a Comment